BAJAWA, MillennialNews.id – Pemimpin (Bupati) baru untuk Kabupaten Ngada, period 2021-2026, harus fokus bangun sektor pertanian dan perdagangan, dua sektor andalan di wilayah ini, selain tingkatkan efisiensi penggunaan anggaran agar bisa tinggalkan era defisit menuju pada surplus.

Ngada dan wilayah kabupaten lainnya di NTT memiliki struktur ekonomi yang sama, didominasi sektor pertanian (PDRB 26,8%), menyusul administrasi pemerintah (13,6%), perdagangan (10,57%), konstruksi (10,57%), jasa pendidikan (9,82%), informasi & komunikasi (6,91%), dan transportasi & pergudangan (5,8%).

Sayang sektor pertanian untuk NTT pada kuartal pertama (K1) tahun 2019 justru menurun, atau mengalami kontraksi 1,96% dibanding K1 2018, bahkan turun 6,25% dari K4 2018 (Oktober-December 2018). Tentu faktor cuaca buruk, curah hujan tak menentu, banjir, akibatkan rendahnya produksi pertanian dan perikanan di Januari-Maret 2019.

Tapi masa kampanye pileg dan pilpres berdampak positif pada pertumbuhan sektor perdagangan, reparasi mobil dan sepeda motor, wrapping sticker mobil jakarta selama 3 bulan pertama tahun ini (naik 9,58%). Pesta Reba di Ngada juga bantu dongkrak konsumsi publik.

Namun secara umum, kondisi ekonomi di NTT menurun dengan tingkat optimisme konsumen yang rendah, karena ekonomi konsumen menurun seiring dengan turnnya pendapatan rumah tangga. Ingat, NTT miliki nilai ITK (indeks tendensi konsumen) terendah (86,63) secara nasional, artinya masyarakat NTT paling pesimis dengan kondisi ekonomi sekarang ini.

Pemimpin baru untuk Ngada juga pemimpin di setiap wilayah NTT harus bisa menciptakan banyak event atau hajatan, rekreasi, untuk bantu dongkrak kondisi ekonomi konsumen. Pemimpin atau kepala daerah di NTT mesti juga beri perhatian serius pada upaya-upaya penciptaan lapangan kerja, karena tingkat pengangguran di NTT saat ini mencapai 78,500 orang. Hanya 1,37 juta orang adalah pekerja penuh, sementara pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran sekitar 1,17 juta orang.

Khusus untuk Ngada, pemimpin baru harus fokus tingkatkan pendapatan daerah (PAD saat ini Rp47 miliar) dan tetap pertahankan efisiensi belanja, karena tahun 2018 Ngada masih mengalami defisit anggaran sebesar Rp29 miliar. Pendapatan daerah, sesuai postur APBD, ditetapkan Rp772,67 miliar sementara belanja daerah sebesar Rp801,84 miliar.

Belanja pegawai sejumlah Rp315 miliar, belanja modal Rp206,56 miliar, dan belanja barang dan jasa sebesar Rp112 miliar. Sementara belanja bantuan keuangan kepada propinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa mencapai Rp145,45 miliar.

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Mengingat tidak banyak porsi anggaran yang diperuntukkan untuk masyarakat secara langsung, calon Bupati (Cabup) Ngada, Gregorius Upi Dheo (GUD), memilih fokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat.

GUD telah menyerahkan bantuan pompa air untuk warga Kampung Wogo, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, juga sumbangan dana untuk pembelian tanah kantor desa baru.

GUD juga menyerahkan tanah seluas 1200m2 untuk warga di Pu’uboa, tanah kelahirannya, digunakan untuk tempat pemakaman umum (TPU) warga. “Ada kewajiban moril toa gili ola wasi gili sani,” ujarnya.

Di kampung Tololela, Kecamatan Jerebu’u, GUD memberikan bantuan dana untuk pembangunan SMK di Desa Warupele II, juga meja sebanyak 20 buah. Dengan kepala desa Inerie, GUD membuat komitmen untuk memberikan bantuan bibit babi sebanyak 100 ekor yang akan dibagikan ke setiap desa, masing-masing 10 ekor. Sistemnya balik modal dan bagi hasil 75% untuk warga berbanding 25% untuk pemilik modal.

Untuk Desa Waebela, GUD memberikan bantuan dana untuk pembebasan lahan mata air di desa Naruwolo. Air akan dialirkan ke desa Legeriwu.

Oleh Hans Obor

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment