Mataloko, MillennialNews.id — Greogorius Upi Dheo mengatakan, saat merenungi Pancasila di Ende, Soekarno menemukan ciri khas masyarakat Indonesia dalam semangat gotong royongnya. Karenanya, Presiden pertama RI itu dalam berbagai kesempatan mengemukakan, intisari dari Pancasila adalah gotong royong.

Ciri khas itu pula telah mejadi bagian dari kehidupan masyarakat Ngada. Orang Ngada, menurut Greg, bahkan telah lama mengabadikan semangat gotong royong tersebut dalam ujar-ujar adat; Su’u Papa Suru, Sa’a Papa Laka.

Selanjutnya Greg mengungkapkan pandangannya bahwa sebagai ideologi, Pancasila menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi Kerakyatan, serta Keadilan Sosial.

Nilai ketuhanan yang dimaksudkan, menurut Greg, bukanlah sikap fanatisme sempit, melainkan semangat untuk menggali nilai-nilai inti agama yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, sikap toleran, serta semangat persatuan. “Sekarang kita menyaksikan ada orang-orang yang atas nama agama tega menghabisi nyawa orang lain, ada ormas agama yang melakukan persekusi atau intimidasi kepada kaum minoritas, agama juga dijadikan mainan politik untuk melanggengkan kekuasaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Greg mengatakan Pancasila juga mengidealkan semangat demokrasi dalam bidang politik melalui proses musyawarah. “Jadi pemimpin siapapun itu harus juga mendengar pendapat orang lain, pendapat bawahannya. Apalagi bawahan memiliki kemampuan dan terampil di bidangnya.”

Terutama, menurutnya, pemimpin harus mendengar suara rakyat. Tidak merasa hebat dan mampu berjalan dengan ide-ide sendiri. “Saya percaya ungkapan Latin Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Jadi sekali pemimpin mengabaikan suara rakyat, cepat atau lambat pasti terjungkal.”

Greg juga menekankan Pancasila yang mensyaratkan demokrasi dalam bidang ekonomi dalam wujud kesejahteraan sosial bagi segenap bangsa Indonesia. “Jadi kalau hari ini kita melihat di sekitar kita ada orang yang hidupnya serba berkecukupan sementara saudara di sebelahnya serba kekurangan, atau para pejabat yang hidup berfoya-foya sementara banyak masyarakat kekurangan uang untuk biaya pendidikan, kesehatan dan makan minum, artinya ada yang belum selesai dengan urusan penerapan nilai Pancasila.,” ungkapnya.

Terakhir, sebut Greg, Pancasila mengarahkan manusia Indonesia untuk menjadi pribadi-pribadi yang berbudaya. Pancasila adalah tentang semangat untuk selalu menghormati, menghargai dan merawat nilai dan tradisi para leluhur, khususnya taradisi dan budaya Ngada. “Jadi jangan lagi kita menganggap remeh produk-produk budaya kita, terutama jika dibanding dengan produk atau barang yang datangnya dari luar. Jangan merasa minder saat pakai pakaian motif adat Ngada.”

“Jangan pernah merasa hui wu’u atau atau uta tabha itu kelasnya ada di bawah burger atau spageti. Kita harus bangga dengan apa yang kita miliki, bahkan kita harus bangga punya rambut kriting dan kulit hitam manis, ketimbang harus berusaha tampil kebarat-baratan atau kearab-araban,” jelasnya.

Greg saat dihubungi MillennialNews pada Sabtu, 1 Juni 2019 malam, mengatakan ia tengah berada di Mataloko karena diundang Generasi Milennial Ngada (GMN) mengikuti rangkaian kegiatan jalan sehat dalam rangka merayakan Hari Raya Pancasila.

Ia mengaku terkesan dengan animo masyarakat terutama kaum muda dan kaum pelajar, meskipun di tengah cuaca yang kurang mendukung tetap hadir dan penuh semangat mengikuti kegiatan jalan sehat. “Kedepan, Hari Raya Pancasila harus terus dirayakan, tinggal dikemas dengan konsep dan acara yang berbeda. Bisa berupa bedah buku Pancasila atau diskusi bertemakan Pancasila,” kata Greg.

Greg berharap, Pancasila dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak dilupakan oleh generasi milenial. “Jangan sampai dengan masuknya banyak paham dari luar, anak-anak muda kita, anak-anak muda Ngada khususnya, melupakan Pancasila,” pungkasnya.

Sementara itu koordinator kegiatan ‘Jalan Sehat Bersama GMN’, Sandro Sowo, saat dihubungi Senin, mengatakan timnya mengundang Gregorius Upi Dheo karena melihat sosok Greg sebagai representasi orang muda yang peduli terhadap kaum millennial Ngada. “Bung Greg merespon baik saat kami undang hadir di kegiatan ini,” kata Sandro. “Bung Greg bahkan berpesan agar GMN tidak ketularan virus ‘panas-panas tahi ayam’.”

Sandro mengungkapkan, bung Greg ingin kami (GMN) semakin banyak merangkul kaum milenial Ngada bergabung di GMN, mengumpulkan ide-ide progresif, melakukan hal-hal positif, memberikan sumbangsih bagi kemajuan Ngada.

Untuk diketahui, dalam rangka merayakan Hari Lahir Pancasila, GMN menyelenggarakan kegiatan ‘Jalan Sehat Bersama GMN’ di Mataloko, Sabtu, 1 Juni 2019. Kegiatan diawali dengan berkumpulnya peserta di depan halaman gereja Paroki Roh Kudus Mataloko, dilanjutkan jalan santai menuju titik tujuan Lapangan Ampera, Desa Waeia.
Sandro mengatakan peserta yang hadir sekitar 10000 (seribu) lebih orang, terdiri dari unsur masyarakat dan pelajar.

Acara puncak di Lapangan Ampera diisi berbagai perlombaan diikuti penampilan musisi-musisi lokal, diantaranya Clan B, Silet Open Up, Aristone dan Potaz. (Asno)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment