BAJAWA, MiillennialNews.id — Calon Bupati untuk Pemilihan Bupati (Pilbup) Ngada periode 2021-2025, Gregorius Upi Dheo (GUD), sosok representasi pemimpin dari kalangan muda, tak bergeming meski banyak tudingan miring muncul, termasuk di media sosial (facebook dan whatsup).

Sebagian publik Ngada (kelompok elit) mengingatkan GUD untuk tidak menerapkan politik transaksional, karena uang tidak boleh membeli demokrasi. Pemimpin model ini cenderung menjadi pemimpin otoriter, juga penguasa yang korup.

Ingat, Undang-Undang No.10 Tahun 2016 Tentang Pilkada, Pasal 187A ayat (1), menegaskan bahwa setiap orang yang sengaja memberi uang atau materi sebagai imbalan untuk memengaruhi pemilih maka orang tersebut dipidana penjara paling singkat 36 bulan dan paling lama 72 bulan, plus denda paling sedikit Rp200 juta hingga maksimal Rp1 miliar.

GUD berkilah jika hal memberi atau berbagi untuk meringankan sedikit beban hidup sesama merupakan perbuatan yang luhur. “Berhasil atau tidak menjadi bupati bukan persoalan untuk saya. Namun memberi dan berbagi akan tetap menjadi komitmen saya,” tulis GUD di laman facebook.

“Sejak beberapa tahun lalu, saya sudah biasa memberi dan berbagi. Orang tidak pernah menyoroti perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Tahun ini ketika saya ingin menjadi calon bupati, dan saya tetap bisa berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan, orang menyoroti sebagai hal yang negatif.”

GUD memahami hal memberi sebagai wujud budi baik. Dan salah satu ciri pemimpin adalah mampu membantu sebanyak mungkin orang menggapai impian mereka.

Tentu masyarakat akar rumput (grass root) memiliki pendangan sendiri tentang sosok setiap kandidat bupati di Ngada. Calon Bupati mesti bisa berjumpa dan mendengar harapan rakyat, karena itu kandidat bupati mesti bisa keliling, bertemu masyarakat di seluruh wilayah Ngada.

Rakyat ingin tahu langkah konkrit kandidat bupati untuk membangun Ngada, juga kepedulian, niat tulus, komitmen, dan totalitas pengabdian. Rakyat butuh percepatan pembangunan meski ekonomi Ngada sudah tumbuh berkat kepemimpinan Marianus Sae, Bupati Ngada yang jadi korban penyuapan lalu dipenjara itu.

Ekonomi Ngada tumbuh 5,02% pada tahun 2018, dibanding 4,96% pada 2017. Pendapatan per kapita sebesar Rp9.557.700 per tahun, lebih tinggi dari Rp8.649.000 pada 2017. Angka indeks pembangunan manusia (IPM) Ngada meningkat dari 66.47 tahun 2017 menjadi 67.10 tahun 2018. IPM Ngada terus alami tren kenaikan sejak 2011. Sejak 2017, Ngada menempati urutan kedua untuk angka IPM, setelah Kota Kupang (urutan pertama). Realisasi pencapaian visi daerah Ngada mencapai 80% tahun 2018, dengan kategori tinggi.

Marianus Sae dikabarkan mendukung GUD, kandidat yang dinilai layak dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Ngada. Marianus Sae memang menginginkan agar model kepemimpinan pro rakyat terus hidup di tanah Ngada, dan pemimpin kedepan adalah pemimpin yang rela dan tulus mengabdi kepada rakyat Ngada. Publik Ngada, terutama kaum milenial dan masyrakat di desa, butuh pemimpin yang handal dalam mengeksekusi kebijakan, termasuk mampu memberi solusi atas persoalan yang tengah di hadapi masyarakat.

Mengingat tidak banyak porsi anggaran yang diperuntukkan untuk masyarakat secara langsung, GUD memilih fokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat, karenanya dia memberi sedikit bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment