MillennialNews.id — Seorang pastor milenial (pastor Oyen) yang baru menerima sakramen imamat, ditahbiskan kemarin (13/1) menggambarkan sosok imam atau pastor itu bagai bunga di tepi jalan atau pinggir jalan. Jalan itu pun sunyi, maka bunga-bunga di tepian jalan itu nyaris tak terlihat keindahannya.

“Doa kalian (umat-red) yang tulus membuat kami pelan-pelan menjadi kudus, biar kami yang pendosa ini pelan-pelan menjadi pendoa. Doa kalian menyucikan kami,” ujar pastor Oyen (RD. Lorens Feto) dalam sambutan mewakili lima imam baru tertahbis di Gereja Hati Kudus Yesus, Paroki Stella Maris Danga, Nagekeo, Flores kemarin.

Kelima imam baru tertabis adalah RD. Laurensius Feto, RD. Rafael Loy Djata, RD. Ceslaus Alfonsus Goa Djo, RP. Urbanus Nio, OCD, dan RP. Sebastianus Sadur, OCD.

“Kami di jalan yang sunyi. Banyak yang dipanggil tapi sedikit yang menjawab, karena gerbang seminari lebar tetapi pintu sakaristi itu sempit. Perjalanan kami masih jauh, tapi perjalanan kami sudah sejauh ini. Terima kasih kepada guru-guru kami karena telah po’aruakan (guyurkan-red) ke kami, kebijakan dan ilmu.”

Di hadapan umat, pastor Oyen secara gamblang mengakui betapa rapuhnya sosok seorang imam, terutama untuk dengan gagah berani menampilkan identitas sebagai seorang gembala umat di tengah manusia yang diperhamba dengan godaan.

Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota tanpa ragu mengungkapkan keprihatinannya, bahwa pastor milenial masih cenderung pilih-pilih muka, ikut selera diri, punya umat favoritan, selalu ada alasan untuk sering-sering tengok keluarga.

Semua itu, demikian Uskup Sensi, sudah pasti bukan karakteristik dan identitas gembala yang baik yang ditabiskan sebagai imam. Uskup ingin imam milenial memiliki komitmen total untuk menggembalakan, merangkul semua orang tanpa batas, tanpa sekat. “Karakter (beragam) umat, masalah-masalah kemanusiaan milenial menuntut komitmen keprihatinan milenial pula dan juga menuntut totalitas komitmen seorang imam milenial,” tegas Uskup Sensi.

“Momen tabisan adalah awal baru untuk memberikan diri sebenar-benarnya dalam pengabdian untuk pengabdian dan pelayanan. Seorang gembala tanpa pamrih, di tengah-tengah tatanan dunia milenial yang tidak boleh dienteng-entengkan, hadir tegas dengan identitas sebagai imam, yang lain-lain ada orang yang urus. Anda hadir di sana sebagai imam, itulah identitasmu.”

Imam milenial memliki idealisme milenial, sebagian menjadi manusia panggung, manusia mimbar, atau sehari-hari bergelimang di tengah-tengah umat (petani, nelayan, pebisnis). “Apapun cara kita hadir, sehebat apapun kita kontekstual, anda hadir di sana sebagai imam. Semua idealisme harus disesuaikan dengan identitas imam, tidak saja melekat erat secara sacramental. Perlu back to basic dan bertanya apakah kita masih on the track dengan Kehendak Allah yang memilih kita menjadi imam? Kendalikan diri dan harus tetap selaras dengan kehendak Allah.”

Uskup Sensi juga mengingatkan imam baru dan imam milenial tentang betapa penderitaan, kecanduan akan dosa, penghambaan pada kekuasaan iblis menjadi realitas masalah kemanusiaan di era milenium ini. Imam sebagai gembala umat, harap Uskup Sensi, mesti prihatin, membebaskan manusia dari segala bentuk penderitaan, berikut melepaskan manusia dari cengkraman kekuatan iblis.

“Untuk itulah Aku Datang”. Ini kata-kata Yesus sendiri, gambaran Kasih Allah yang mau memulihkan kemanusiaan, karena Allah tidak tega anak-anaknya binasa oleh kekuatan iblis, ujar Uskup Sensi.

Mewakili umat, Yohanes Don Bosco Do yang juga Bupati Nagekeo, juga memberi harapan kepada para imam baru dan imam milenial, untuk lebih fokus pada masalah identitas karena masalah teknis dan kebijakan telah banyak diambil oleh para awam.

“Dalam era informasi yang bersiwelerang saat ini, saya mewakili umat dan sebagai orangtua mengajak para imam, bahwa di atas bahu kalian ada beban besar, untuk bangun ketahanan (resilience), untuk tidak mudah tergoda pada semua tawaran yang datang bertubi-tubi. Perlu waktu berteduh, kontemplasi. Tidak semua waktu dipakai untuk berjumpa dengan kami, untuk bangun kehidupan yang saleh. Umat abad ke-21 ini butuh keteladanan, pemimpin, gembala yang saleh.”

Pastor Oyen telah secara terbuka memohon doa dari umat agar membuat para imam milenial pelan-pelan menjadi kudus. Identitas seluruh imam mesti juga dipertegas oleh umat sendiri yang tercermin melalui sikap dan cara berinteraksi. Jika tidak, maka para pastor milenial ini akan tersisih ke pinggir jalan, bahkan tak menjadi bunga lagi, atau tetaplah bunga dengan hanya sedikit keindahan. (hans)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment