JAKARTA, MillennialNews.id – Industri kopi Indonesia semakin menggeliat. Bahkan, saat ini sudah banyak produk kopi dalam negeri berkualitas yang diakui dunia internasional. Sebut saja Kopi Arabica Flores Bajawa (AFB) asal Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai daerah yang memiliki keanekaragaman budaya dan kekayaan alam berlimpah, Kabupaten Ngada memang telah lama dikenal sebagai salah satu produsen kopi berkualitas di Indonesia. Popularitas kopi AFB juga digadang-gadang telah berhasil menembus pasar dunia.

Keistimewaannya sendiri terletak pada proses produksi, di mana pohon kopi tumbuh secara organik di Bumi Ngada. Alhasil, aroma dan rasa yang dihasilkan begitu khas sehingga dipuja para penikmat kopi lokal maupun mancanegara.

Untuk mendorong pengembangan industri kopi itu, Pemerintah Kabupaten Ngada menyelenggarakan Investor Forum yang bertajuk “Aroma Kopi Ngada Siap Taklukan Dunia” di Rafflesia Ballroom, Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (25/7/2019).

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintah, antara lain Direktur Jenderal Pekebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Dr. Kasdi Subagyono, Bupati Kabupaten Ngada Paulus Soliwoa, dan sejumlah stakeholders.

Dalam kata sambutannya, Dirjen Kasdi Subagyono memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Ngada atas komitmen kuat mengangkat kopi sebagai komiditi unggulan.

“Kopi Arabika Bajawa Flores itu sudah populer dan terkenal di luar negeri. Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Ngada memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan industri pertaniannya, terutama kopi,” tutur Kasdi Subagyono.

Kasdi menambahkan, Kementerian Pertanian siap melakukan kerjasama dan berkolaborasi dengan Pemkab Ngada untuk mengembangkan potensi tersebut. Apalagi, kopi menjadi salah satu komiditi utama yang masuk dalam program Kementan.

Saat ini, Kementan tengah menggalakkan program BUN 500 yaitu penyiapan 500 juta batang benih unggul perkebunan dalam 5 tahun ke depan. Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas petani, sehingga jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan baik.

“Peremajaan atau replanting tersebut adalah upaya jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan petani. Karena menurut data yang kami terima, saat ini rata-rata jumlah produksi kopi baru menyentuh angka 0.78 ton per hektar. Bahkan, ada yang 0.3 ton per hektar. Ini sangat memprihatinkan,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Paulus Soliwoa menyambut baik ide kerjasama yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian. Menurutnya, saat ini, Kabupaten Ngada memang membutuhkan bantuan yang bersifat jangka panjang.

Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya lahan pertanian yang masih belum dimaksimalkan. Setidaknya ada 3 kecamatan yang hingga saat ini belum difungsikan secara maksimal. Mulai dari Kecamatan Golewa dengan luas lahan mencapai 1.250 hektare, Kecamatan Golewa Barat 3.500 hektare, dan Kecamatan Bajawa 1.097 hektare.

“APBD kami ini kecil sekali, tahun ini hanya sekitar Rp800 miliar. Jadi kami mengharapkan kerjasama dari pemerintah pusat, dan para stake holders lainnya,” terang Bupati Paulus.

Dia pun menjamin bila potensi kopi di Kabupaten Ngada telah dimaksimalkan, maka akan berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.

“Saya yakin sekali karena kopi kami memiliki sejumlah keunggulan. Kopi AFB itu punya karekteristik rasa dan aroma yang unik ada floral, vanilla, spicy, caramel, dan honey. Lalu tingkat keasamannya medium dengan after taste yang panjang,” kata Paulus.

Saat ini, total pohon kopi di Kabupaten Ngada telah menyentuh angka 3.7 juta pohon dan menghasilkan 2.230,8 ton per tahun. Paulus pun berharap agar ke depannya rata-rata produksi kopi AFB terus meningkat.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment